Jumat, 14 Januari 2011

Surat #1

heyyyy!
kmaren2 aku iseng-iseng buat surat niih. buat si penghuni mars. gara2 #stupm dari @nulisbuku, aku jadi suka nulis-nulis surat gitu. nih salah satunyaaa:


Painful.
Lippo Cikarang, 5 Januari 2010
Pagi yang sepi.


Ehm, halo.
Mengapa ya, rasanya aku selalu gugup kalau berbicara denganmu? Apakah karena kamu ganteng? Ya, mungkin. Atau mungkin karena badanmu yang atletis? Ya, bisa saja. Dan.. apa karena ku dengar kamu idola nyaris semua perempuan di sekolah?
Tak bisa dipungkiri, kamu itu populer. Kamu ganteng, berbadan atletis, dan baik hati. Tak heran banyak perempuan yang mengidolai kamu.

Tapi, kalau dibandingkan dengan aku? Ah, kurus, tidak terlalu tinggi, dan aneh. Kutu buku.
Dengan semua perbedaan yang ada di antara kita, aku pun bingung. Mengapa kamu mau bersahabat denganku?
Kamu ceritakan semua soal hidupmu, rahasiamu. Akupun begitu, rasanya waktu itu kita sudah saling percaya. Padahal, aku anak baru di sekolah. Satu lagi hal aneh.
Entah kenapa.. aku menjadi suka padamu. Suka pada semua yang ada padamu. Suka pada kekuranganmu. Kelebihanmu itu, untukku, adalah bonus.

Lalu suatu hari kau dengan gampangnya mengajakku jadian. Kau tau rasanya? Bahagia pastinya. Aku bahagia. Hingga perempuan-perempuan di sekolah iri padaku. Bahkan ada beberapa adik kelas ada yang membenciku, setelah tau ini. Satu lagi hal aneh tentangmu, si sok ganteng. Kamu memilihku.
Sampai pada suatu hari, kita putus. Lalu dengan GAMPANGnya kamu kembali dekat dengan perempuan lain. Apa itu yang kau bilang setia? Katamu, walau kita sudah putus, kamu akan setia. Hah! Dasar laki-laki, bisanya berjanji saja kerjanya. Tak bisa ditepati.

Lalu, kau benar-benar menjauh. Sms yang ditunggu tak kunjung datang, dering telepon darimu pun tak terdengar. Hei, kamu puas menghancurkanku? Kamu membuatku menunggu sesuatu yang tak pasti, tahukah kamu?
Aku harus tersenyum palsu dibalik semua sakitnya. Bukan, tangisanku bukan tangisan bombay seperti dalam sinetron-sinetron. Kalau aku mengingatmu, dadaku selalu sesak, sakit. Pahit? Ya, mungkin. Atau lebih tepatnya.. seperti ditusuk tepat di dada? Ditusuk oleh kenangan-kenangan kita sendiri. Rasanya,  bukan rasa seperti yang kamu inginkan. Setiap kamu merasakan sakitnya, kamu pasti akan berharap sakit itu akan segera selesai. Tapi ternyata tidak.

Don’t you know something, do you? It’s painful. Yeah, it’s painful. Sometimes I just wanna let you realize something. I love you. But you never know.
Tapi, ada satu pertanyaan lagi untukmu. Mengapa kamu memilihku?
Sudahlah, kaupun tak akan menjawab pertanyaan ini sampai kapanpun. 
Aku tak mau banyak berharap.



P.S.: A heartbreak is always a blessing from God. It might be a very worst nightmare that leaves you crying in the middle of night. But it is just His way of letting you realized that He saved you from the wrong one. Thank God.
With tears,

Si bodoh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar