Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Februari 2012

Tuhan Tak Perduli


Saat kau hancur hati
Hilang kata tuk dirangkai
Tapi Tuhan tidak perduli,
Ia bahkan mendengar tiap doa
yang tak terucap

Saat hidupmu diterjang ombak
Keputus asaan memaksamu berhenti bertahan
Tapi Tuhan tak perduli,
Ia bahkan melampaui apa yang tak terselami

Saat engkau merasa suatu hal yang mustahil
Tak mungkin lagi bagi akal manusia
Tapi Tuhan tak perduli,
Ia bahkan mengetahui apa yang tak terpikir

Saat tangismu seruh-menderuh
Seakan dadamu direngut luka
Tapi Tuhan tidak perduli,
Ia bahkan menghitung setiap tetes air mata
yang tertahan

Saat nafas nyaris tak berembus
Kata-kata pun tak dapat kau gapai
Tapi Tuhan tak perduli,
Ia bahkan mengangkatmu
Tinggi bersama-Nya

Ini puisi yang saya buat bareng paketan saya, @anyawkwk. dia menginspirasi sesuatu dari statusnya: 'Tuhan bahkan mendengar doa yang tak terucap'. Semoga menguatkan :)

Selasa, 21 Februari 2012

Akankah

Ketika kaki tak lagi melangkah
menemanimu menapaki hidup
akankah engkau tetap mencintaiku?

Ketika tangan tak lagi menggenggam
erat padu mengunci tanganmu
akankah engkau tetap mencintaiku?

Ketika lengan tak lagi merentang
memeluk engkau saat remuk redam
akankah engkau tetap mencintaiku?

Ketika mata tak lagi melihat
dan wajahmu memudar dari pandanganku
akankah engkau tetap mencintaiku?

Ketika lidah menjadi kaku
dan sulit bagiku menyebut namamu
akankah engkau tetap mencintaiku?

Ketika telinga tak lagi mendengar
tiada kusadari satu katapun bisikmu
akankah engkau tetap mencintaiku?

Ketika jantung tak lagi berdetak
hanya kenangan dan nama yang menemanimu..

Akankah engkau tetap mencintaiku?

Minggu, 19 Februari 2012

Kami yang Terinjak


Telah terlalu lama menengadah
Hanya bisa memandang yang tinggi
Terinjak terkoyak pakaian kami

Kau lemparkan jubahmu
Di atas darah kami
Kau lemparkan di bahu kami yang berpeluh
Airmata keringlah sudah

Sebab dedaunan gugurpun mencukupkan kami
Dan kau tetap tak perduli
Sampah yang kau buang makanan kami

Terinjak terkoyak paru-paru kami

Rabu, 02 November 2011

Puisi :) maaf kalo jelek.

Langkah kaki, menderapnya nian 
Tangisan, dibuatnya pelan
Hentakan, terhempas detik sunyi
Lenyap, berharap tembus pandang

Bukan mimpi, apalagi tonil yang palsu
Dirinya kini palsu, terhembus muson barat
Yang tak bisa berharap pada waktu
Berharap terkubur di Sahara

Kejur dirinya yang tertusuk
Disangkalnya sembilu dalam dada
Karna kata dapat membuat hidupnya klise

Karena kasih, seharusnya hatimu, dan hatinya. 
Bukan sandiwara norak garapan orang kampung.
-fabs



Kamis, 26 Mei 2011

puisi yang tak terlalu bagus, tetapi semoga Bapa suka. :D

Lebih baik aku menepi
Tanpa jejak ke ujung bumi
Hati nyeri, jiwaku rentan
Satu-satunya pemulih, kasih Tuhan

Betapa kacau aku
Saat ku mencoba meninggalkanMu
Tanpa ampun, air mata mengalir
Saat waktu menjadi penyadar..

Kau di sana, tak pernah bergeser sedikitpun
Rasa malu terlalu menyerang untuk minta ampun
Namun, lagi-lagi,
Engkau di sana, selalu menungguku untuk kembali..

-fabs

Kamis, 17 Maret 2011

Puisi untuk Ibu Habibie: Namamu Ainun

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.

Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya, dan kematian adalah sesuatu yang pasti,
dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.

Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.

Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.

Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada,
aku bukan hendak megeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.

Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang, tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik. mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.

Selamat jalan,
Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya,
kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.

selamat jalan sayang,
cahaya mataku, penyejuk jiwaku,
selamat jalan, calon bidadari surgaku ….
 - B.J. Habibie

p.s.: duh ini puisi............................... juara.